Kabar dari Keyakinan

November 08, 2014


Hari Minggu, setelah mengunjungi senja (senja sudah pergi, aku kemalaman) di pantai, perutku lapar. Kuputuskan mampir ke cafe langganan, setengah harap menemukan kau di sana. Entah mau sampai kapan aku begini.

Tebak siapa yang kutemui di sana..

"Lho, mas Pandu? Dari kapan di Bali?! Ya ampun lama gak ketemu!"
"Lho, kamu? Rambutmu kok pendek? Sini duduk dulu, saya traktir deh. Anggap saja reuni."
"Iya, saya pendekin, ceritanya katarsis gitu. Alhamdulillah, tau aja lagi laper.. Rejeki emang gak kemana.."
"Kamu gimana kabarnya? Kok kayumanis gak diajakin? Kan belum dikenalin ke saya."
"Alhamdulillah baik mas, oh itu..."

Ia memperlihatkan wajah prihatin. Berusaha membesarkan hatiku.

"Mbak Devina gimana kabarnya? Kapan kalian mau nikah?"Tanyaku, mengalihkan pembicaraan.

Wajahnya seketika menegang. Seperti mengingat-ingat sesuatu.

Devina sudah menikah... Dua tahun lalu. Dia mutusin saya. Kamu pasti menganggap saya lemah, mudah menyerah, tapi enggak. Saya sudah berusaha semampu saya. Saya pernah melamarnya dan ditolak keluarganya. Dua kali! Dua kali saya mempermalukan keluarga saya di depannya. Dulu saya begitu yakin. Saya cinta dia. Dia cinta saya. Delapan tahun bukan waktu yang singkat. Tapi apa boleh buat. Ha ha ha.. Lihatlah saya, patah hati membuat saya hampir gila! Tapi Devina sudah memilih. Saya tidak punya hak untuk memaksanya lagi. Keluarganya ingin yang terbaik untuknya. Mungkin saja sekarang dia jauh lebih bahagia. Semoga dia bahagia. Amin. 

Matanya berkaca-kaca.

May, sampai sekarang saya masih cinta dia... 



Patah hatiku belum seberapa kalau dibandingkan dengan kisah Mas Pandu.
Di atas langit, masih ada langit...


***
Cinta itu, nisbi.
Ibu bilang, cinta itu begini.
Ayah bilang cinta itu begitu.

Mereka bilang aku bodoh.

Mencintaimu, dulu ataupun sekarang, bukanlah suatu kebodohan.

Aku yakin,

Yang namanya cinta, tak pernah mengikat, ataupun terikat. Aku tak memaksamu untuk meyakininya juga, aku tak suka memaksa. 

Aku juga yakin,
Ibu pasti salah,
Tidak semua lelaki se-berengsek ayah.

Aku kenal beberapa yang baik. Kamu salah satunya.

Terserah kau saja mau bilang aku ini apa.

Semoga harimu menyenangkan.
Lekaslah sehat.

















    

You Might Also Like

0 comments

Popular Posts