Pagi. Hangat.
Bukan, bukan terbangun di pelukanmu.
Aku tergulung selimut di belakangmu,
sedang kau masih terlelap.
Tidurlah..terlelaplah lebih lama lagi.
Sebab aku tak ingin usai mengamati wajahmu.
Tidurlah..terlelaplah lebih lama lagi. Sebab aku tak ingin usai mendekapmu.
Tidurlah..terlelaplah lebih lama lagi. Sebab aku tak ingin usai ...
Aku. Masih ingat.
Hampir pukul satu dinihari. Kau sakit dan suaramu serak karena flu.
Aku merampungkan tugas kuliahmu. Dan kau tertidur.
Dahimu berkeringat.
Pukul satu lebih dua puluh. Aku menyeka keringat di dahimu.
Pelan.. Pelan sekali.
Tidurlah..terlelaplah lebih lama lagi. Sebab aku tak ingin usai ...
Setidaknya kita pernah berusaha.
Januari 2016
Aku tidak cukup cerdas, idealismeku goyah. Mereka suruh aku menerkam tapi aku diam saja. Aku tolol.
Kini aku tak punya apa-apa untuk mengukuhkan diriku sendiri. Harimau sudah kehilangan taring. Setan tertawa. Tidak, ia tak dirasuki setan. Semua berjalan atas kehendaknya. Setan menertawakan ketololanku.
Tega.
Tuanku telah mencuri taringku.Tanpa dosa.
Ah, salahku juga. Kenapa diam saja?
Aku, harimau tanpa taring-bukanlah harimau. Siapa yang masih menganggapku harimau? Aku bahkan tidak lebih kuat dari kucing persia di rumah sebelah.
Tanpa taring, masihkah aku disegani?
Tuan, kau bawa kemana taringku?
Seusai kehilangan taring,
duaribuentahbelas
Kini aku tak punya apa-apa untuk mengukuhkan diriku sendiri. Harimau sudah kehilangan taring. Setan tertawa. Tidak, ia tak dirasuki setan. Semua berjalan atas kehendaknya. Setan menertawakan ketololanku.
Tega.
Tuanku telah mencuri taringku.Tanpa dosa.
Ah, salahku juga. Kenapa diam saja?
Aku, harimau tanpa taring-bukanlah harimau. Siapa yang masih menganggapku harimau? Aku bahkan tidak lebih kuat dari kucing persia di rumah sebelah.
Tanpa taring, masihkah aku disegani?
Tuan, kau bawa kemana taringku?
Seusai kehilangan taring,
duaribuentahbelas

